Rabu, 22 Januari 2014

Kehidupan Alam Semesta

                                     Bagaimana Alam Semesta dan Kehidupan Bermula?
”Sains akan pincang tanpa agama, dan agama akan buta tanpa sains.”—Albert Einstein.
MASA kita ini adalah masa terjadinya banyak sekali hal menakjubkan yang tidak pernah ada sebelumnya. Berbagai penemuan baru dari luar angkasa memaksa para astronom untuk merevisi pandangan mereka tentang asal mula alam semesta kita. Banyak orang terpesona oleh ketertiban alam semesta dan mengajukan berbagai pertanyaan klasik yang terkait dengan keberadaan kita: Bagaimana alam semesta dan kehidupan bermula dan mengapa?
Bahkan, kalau kita melihat ke arah lain—ke dalam diri kita—pemetaan kode genetis manusia yang dilakukan baru-baru ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana beragam bentuk kehidupan tercipta? Dan siapa, jika ada, yang menciptakannya? Kerumitan yang luar biasa dari cetak biru genetis kita menggerakkan seorang presiden Amerika untuk berkata bahwa ”kita sedang belajar bahasa yang Allah gunakan untuk menciptakan kehidupan”. Salah seorang ilmuwan kepala yang terlibat dalam penguraian kode genetis tersebut dengan rendah hati menyatakan, ”Kita baru melihat sekilas buku panduan kita sendiri, yang sebelumnya hanya diketahui oleh Allah.” Namun, pertanyaannya tetap belum terjawab—bagaimana dan mengapa?
                                                                              ”Dua Jendela”
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa semua mekanisme alam semesta ini dapat dijelaskan oleh analisis rasional, sehingga tidak perlu ada hikmat ilahi. Namun, banyak orang, termasuk para ilmuwan, tidak puas dengan pandangan ini. Mereka berupaya memahami realitas dengan melihat keduanya, sains maupun agama. Mereka merasa bahwa sains dapat menjelaskan caranya kita dan kosmos di sekitar kita tercipta, sementara agama dapat menjelaskan alasannya kita tercipta.
Tentang pendekatan dua arah ini, fisikawan Freeman Dyson menjelaskan, ”Sains dan agama adalah dua jendela yang melaluinya orang-orang berupaya memahami alam semesta yang luas di luar.”
”Sains berurusan dengan apa yang dapat diukur, agama berurusan dengan apa yang tidak dapat diukur,” kata penulis William Rees-Mogg. Ia mengatakan, ”Sains tidak dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Allah, sebagaimana hal itu juga tidak dapat membuktikan benar-tidaknya gagasan moral atau estetika tertentu. Tidak ada alasan ilmiah mengapa kita harus mengasihi sesama atau merespek nyawa manusia . . . Berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah merupakan kesalahan terbesar, yang akan menghapuskan semua yang kita hargai dalam kehidupan, bukan hanya Allah atau kecerdasan manusia, tetapi juga cinta, puisi, dan musik.”

0 komentar:

Posting Komentar

 

Kehidupan Alam Semesta Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting