Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu.
Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan
To Riaja, artinya “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedangkan orang Luwu menyebutnya
To Riajang, artinya orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga
versi lain kata Toraya. To = Tau (orang), Raya = Maraya (besar),
artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut
menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman
suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Di wilayah Tana Toraja juga digelar “Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana
Matari’ollo”, arti harfiahnya, “Negeri yang bulat seperti bulan dan
matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).
Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Sumber : Google.wikipedia@Toraja.com
Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara
pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja mayat tidak di
kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa waktu. Jangka
waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya
memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si
mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di
dalam Goa atau dinding gunung.
Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu tidak
dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di
dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi
terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling
lambat September.
Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan
(Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah pada
tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane).
Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan
100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut Simbuang Batu.
Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah terdiri dari 24
buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil. Ukuran batu ini
mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor
perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu.
Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal
dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan”
(kerbau yang dipotong sekurang- kurangnya 24 ekor).
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh mereka
yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau
Seribu, khususnya di Bali. Di dalam “Panca Yadnya”, upacara ini
termasuk dalam “Pitra Yadnya”, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh
lelulur
Makna upacara Ngaben pada intinya adalah, untuk mengembalikan roh
leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda
mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal
Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.
Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari
orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap
orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana antara
15 juta sampai 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan
semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan
bahwa, kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu
dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang
biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben
dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat "Bade dan
Lembu" yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warnawarni dan bahan
lainnya. "Bade dan Lembu" ini adalah, tempat meletakkan mayat
Gambar 1.17. Lembu
Gambar 1.18. Bade
Kemudian "Bade" diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi
dengan "gamelan", dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Di depan
"Bade" terdapat kain putih panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan
sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan,
dan "Bade" akan diputar sebanyak 3 kali. Upacara Ngaben diawali dengan
upacara-upacara dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian "Lembu"
dibakar sampai menjadi abu yang kemudian dibuang ke laut atau sungai
yang dianggap suci.
3. Suku Dayak
Sejak abad ke 17, Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan
tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang bisa
menindik diri hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan
tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting
pemberat untuk memperbesar kuping daung daun telinga, menurut
kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga semakin
cantik, dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat.
Kegiatan-kegiatan
adat budaya ini selalu dikaitkan dengan kejadian penting dalam
kehidupan seseorang atau masyarakat. Berbagai kegiatan adat budaya ini
juga mengambil bentuk kegiatan-kegiatan seni yang berkaitan dengan
proses inisiasi perorangan seperti kelahiran, perkawinan dan kematian
ataupun acara-acara ritus serupa selalu ada unsur musik, tari, sastra,
seni rupa. Kegiatan-kegiatan adat budaya ini disebut Pesta Budaya.
Manifestasi dari aktivitas kehidupan budaya masyarakat merupakan
miniatur yang mencerminkan kehidupan sosial yang luhur, gambaran wajah
apresiasi keseniannya, gambaran identitas budaya setempat.
Kegiatan adat budaya ini dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek
moyang dan masih terus berlangsung sampai saat ini, sehingga seni
menjadi perekam dan penyambung sejarah.
Jadi, dapat disimpulkan yang disebut dengan kebudayaan adalah pikiran,
karya, teknologi dan rangkaian tindakan suatu kelompok masyarakat.
Istilah terkait adat istiadat : baju adat, pakaian adat, rumah, pakaian, adat
jawa, rumah adat, rumah adat indonesia, pernikahan, adat batak, adat bali, adat
istiadat, hukum adat, upacara adat, adat istiadat bali, adat istiadat daerah,
adat istiadat jawa, adat istiadat melayu, adat istiadat sunda, adat melayu, adat
sunda, contoh adat istiadat, pengertian adat, adat istiadat indonesia,
kebudayaan, pengertian adat istiadat
#Selamat Membaca :))








0 komentar:
Posting Komentar