Jumat, 31 Januari 2014

Adat Istiadat Warga Indonesia

1. Suku Toraja
 Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
 Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja, artinya “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedangkan orang Luwu menyebutnya To Riajang, artinya orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga versi lain kata Toraya. To = Tau (orang), Raya = Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
 Di wilayah Tana Toraja juga digelar “Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’ollo”, arti harfiahnya, “Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).
 Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Sumber : Google.wikipedia@Toraja.com
 
Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di dalam Goa atau dinding gunung.
 Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling lambat September.
 Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane).
 Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut Simbuang Batu. Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil. Ukuran batu ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan” (kerbau yang dipotong sekurang- kurangnya 24 ekor).
 
 
 
2. Ngaben - pembakaran Jenasah di Bali
 
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh mereka yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu, khususnya di Bali. Di dalam “Panca Yadnya”, upacara ini termasuk dalam “Pitra Yadnya”, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur
  Makna upacara Ngaben pada intinya adalah, untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.
 Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana antara 15 juta sampai 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa, kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
 Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat "Bade dan Lembu" yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warnawarni dan bahan lainnya. "Bade dan Lembu" ini adalah, tempat meletakkan mayat
 
Gambar 1.17. Lembu
 
Gambar 1.18. Bade
 
Kemudian "Bade" diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan "gamelan", dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Di depan "Bade" terdapat kain putih panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan, dan "Bade" akan diputar sebanyak 3 kali. Upacara Ngaben diawali dengan upacara-upacara dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian "Lembu" dibakar sampai menjadi abu yang kemudian dibuang ke laut atau sungai yang dianggap suci.
  3. Suku Dayak
Sejak abad ke 17, Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang bisa menindik diri hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar kuping daung daun telinga, menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga semakin cantik, dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat.
 
Kegiatan-kegiatan adat budaya ini selalu dikaitkan dengan kejadian penting dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Berbagai kegiatan adat budaya ini juga mengambil bentuk kegiatan-kegiatan seni yang berkaitan dengan proses inisiasi perorangan seperti kelahiran, perkawinan dan kematian ataupun acara-acara ritus serupa selalu ada unsur musik, tari, sastra, seni rupa. Kegiatan-kegiatan adat budaya ini disebut Pesta Budaya. Manifestasi dari aktivitas kehidupan budaya masyarakat merupakan miniatur yang mencerminkan kehidupan sosial yang luhur, gambaran wajah apresiasi keseniannya, gambaran identitas budaya setempat.
Kegiatan adat budaya ini dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan masih terus berlangsung sampai saat ini, sehingga seni menjadi perekam dan penyambung sejarah.
 Jadi, dapat disimpulkan yang disebut dengan kebudayaan adalah pikiran, karya, teknologi dan rangkaian tindakan suatu kelompok masyarakat.
 Istilah terkait adat istiadat : baju adat, pakaian adat, rumah, pakaian, adat jawa, rumah adat, rumah adat indonesia, pernikahan, adat batak, adat bali, adat istiadat, hukum adat, upacara adat, adat istiadat bali, adat istiadat daerah, adat istiadat jawa, adat istiadat melayu, adat istiadat sunda, adat melayu, adat sunda, contoh adat istiadat, pengertian adat, adat istiadat indonesia, kebudayaan, pengertian adat istiadat
 
#Selamat Membaca :))

Jumat, 24 Januari 2014

                                             Kehidupan Manusia Purba

A. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Pada  masa ini kehidupan manusia purba sangat bergantung kepada sumber daya alam. Mereka mengumpulkan umbi-umbian liar dan melakukan perburuan.
Hidupnya juga masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Awalnya mereka hidup sendiri-sendiri, namun untuk menghadapi keadaan alam yang berat dan makhluk buas, mereka telah menyadari pentingnya hidup berkelompok.
B. Masa Bercocok Tanam
Manusia purba telah bisa menyediakan makanannya sendiri dengan cara bercocok tanam dan beternak. Pada masa ini mereka sudah menetap.
Mereka membuat rumah dari kayu dan tinggal di suatu daerah sambil menunggu waktu panen. Ketika tanah yang dijadikan lahan untuk bercocok tanam sudah tidak subur, baru mereka akan berpindah tempat.
Pada zaman ini, manusia diperkirakan telah mengenal pakaian yang terbuat dari kulit binatang atau kulit kayu.
C. Masa Mengenal Kepercayaan
Pada masa ini manusia purba mulai menyadari adanya kekuatan yang melebihi dirinya, sehingga mereka melakukan upacara-upacara.
Selain itu, dibuat bangunan-bangunan yang sangat besar untuk digunakan dalam upacara tersebut. Upacara tersebut antara lain upacara pemujaan, upacara ritual dan upacara persembahan. 
D. Masa Perundagian
Awalnya alat-alat yang mereka gunakan untuk bertahan hidup hanya batu runcing, kapak, tulang dan kayu. Nah, pada masa ini manusia mulai membuat barang-barang yang berasal dari logam.
Mereka membuat barang-barang logam ini dengan cara mencetaknya. Oh iya, bahkan sudah ada sistem pertukaran untuk mendapatkan logam.
Seperti itulah kehidupan manusia purba. Jauh berbeda dengan kehidupan kita saat ini. Bener enggak? Adakah yang mau merasakan kehidupan zaman purba? (Kidnesia/Berbagaisumber

Rabu, 22 Januari 2014

Kehidupan Alam Semesta

                                     Bagaimana Alam Semesta dan Kehidupan Bermula?
”Sains akan pincang tanpa agama, dan agama akan buta tanpa sains.”—Albert Einstein.
MASA kita ini adalah masa terjadinya banyak sekali hal menakjubkan yang tidak pernah ada sebelumnya. Berbagai penemuan baru dari luar angkasa memaksa para astronom untuk merevisi pandangan mereka tentang asal mula alam semesta kita. Banyak orang terpesona oleh ketertiban alam semesta dan mengajukan berbagai pertanyaan klasik yang terkait dengan keberadaan kita: Bagaimana alam semesta dan kehidupan bermula dan mengapa?
Bahkan, kalau kita melihat ke arah lain—ke dalam diri kita—pemetaan kode genetis manusia yang dilakukan baru-baru ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana beragam bentuk kehidupan tercipta? Dan siapa, jika ada, yang menciptakannya? Kerumitan yang luar biasa dari cetak biru genetis kita menggerakkan seorang presiden Amerika untuk berkata bahwa ”kita sedang belajar bahasa yang Allah gunakan untuk menciptakan kehidupan”. Salah seorang ilmuwan kepala yang terlibat dalam penguraian kode genetis tersebut dengan rendah hati menyatakan, ”Kita baru melihat sekilas buku panduan kita sendiri, yang sebelumnya hanya diketahui oleh Allah.” Namun, pertanyaannya tetap belum terjawab—bagaimana dan mengapa?
                                                                              ”Dua Jendela”
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa semua mekanisme alam semesta ini dapat dijelaskan oleh analisis rasional, sehingga tidak perlu ada hikmat ilahi. Namun, banyak orang, termasuk para ilmuwan, tidak puas dengan pandangan ini. Mereka berupaya memahami realitas dengan melihat keduanya, sains maupun agama. Mereka merasa bahwa sains dapat menjelaskan caranya kita dan kosmos di sekitar kita tercipta, sementara agama dapat menjelaskan alasannya kita tercipta.
Tentang pendekatan dua arah ini, fisikawan Freeman Dyson menjelaskan, ”Sains dan agama adalah dua jendela yang melaluinya orang-orang berupaya memahami alam semesta yang luas di luar.”
”Sains berurusan dengan apa yang dapat diukur, agama berurusan dengan apa yang tidak dapat diukur,” kata penulis William Rees-Mogg. Ia mengatakan, ”Sains tidak dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Allah, sebagaimana hal itu juga tidak dapat membuktikan benar-tidaknya gagasan moral atau estetika tertentu. Tidak ada alasan ilmiah mengapa kita harus mengasihi sesama atau merespek nyawa manusia . . . Berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah merupakan kesalahan terbesar, yang akan menghapuskan semua yang kita hargai dalam kehidupan, bukan hanya Allah atau kecerdasan manusia, tetapi juga cinta, puisi, dan musik.”
 

Kehidupan Alam Semesta Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting