Rabu, 26 Februari 2014

Dalam Dua Hari, Dua Hewan Mati di Kebun Binatang Surabaya

Dalam Dua Hari, Dua Hewan Mati di Kebun Binatang Surabaya

Dalam dua hari terakhir, dua hewan KBS mati dalam kasus kematian yang tidak wajar.

satwa,kebun binatang surabaya,singa matiKandang singa KBS. (KOMPAS.com/Achmad Faizal)
Dalam dua hari terakhir, dua hewan koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS) mati. Kasus terakhir adalah kematian singa jantan (Panthera leo) berusia 1,5 tahun bernama Michael yang ditemukan terjerat tali sling timah, Selasa (7/1) pagi.
Michael ditemukan mati oleh penjaga satwa, Supadi. Tali yang menjeratnya itu biasa digunakan untuk membuka dan menutup kandang. Pengelola kebun binatang menganggap kematian tersebut tak wajar.
Model pintu kandang dengan tali sling sudah umum digunakan untuk kandang karnivora di kebun binatang. “Jadi sangat aneh jika tiba-tiba bisa singa itu terjerat tali sling,” Direktur Operasional Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS drh Liang Kaspe, mengatakan.
Agus Supangat dari Humas Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS menyebutkan, kondisi Michael masih sehat hingga sehari sebelum kematian. Tewasnya diduga pada malam hari saat tidak ada penjagaan dari petugas KBS.
Michael ditemukan dalam posisi ekstrem saat tewas, yakni menggantung dengan posisi kepala di bagian atas, layaknya posisi orang yang mati bunuh diri. Sementara tali sling berbahan timah itu memutar menjerat lehernya.
Peristiwa kematian satwa yang dinilai penuh kejanggalan ini membuat Pemkot meminta Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya untuk melakukan penyelidikan.
Atas kematian Michael, koleksi Singa KBS kini tinggal lima ekor. Empat betina, dan seekor lagi berkelamin jantan.
Sehari sebelumnya, hewan gnu (Connochaetus taurinus) atau dikenal dengan wildebeest juga ditemukan mati pada pukul 07.00 dalam keadaan kembung. Gnu jantan berusia lima tahun tersebut didatangkan dari Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan.
Meskipun kondisi kandang gnu cukup luas, hujan yang turun terus-menerus membuat tanah di kandang tergenang air, terjadi kelembaban tinggi, hingga diduga mengakibatkan gnu terserang kembung. Hal ini ditegaskan pula oleh hasil otopsi.
Kematian dua hewan ini menambah panjang daftar kematian satwa di KBS. Sebagai gambaran, pada Juni 2013, koleksi KBS sebanyak 203 spesies—padahal setahun yang lalu masih sekitar 231 spesies (berkurang 28 spesies).
Penyebab koleksi KBS mati adalah antara lain usia binatang yang sudah tua. Selain itu, juga ada yang mati karena penyakit

Rabu, 05 Februari 2014

Sejarah Suku Melayu

Nama "Malayu" berasal dari Kerajaan Malayu yang pernah ada di kawasan Sungai Batang Hari. Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu akhirnya takluk dan menjadi bawahan Kerajaan Sriwijaya.[10] Pemakaian istilah Melayu-pun meluas hingga ke luar Sumatera, mengikuti teritorial imperium Sriwijaya yang berkembang hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Jadi orang Melayu Semenanjung berasal dari Sumatera.[11]
Berdasarkan prasasti Keping Tembaga Laguna, pedagang Melayu telah berdagang ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga turut serta membawa adat budaya dan Bahasa Melayu pada kawasan tersebut. Bahasa Melayu akhirnya menjadi lingua franca menggantikan Bahasa Sanskerta.[12] Era kejayaan Sriwijaya merupakan masa emas bagi peradaban Melayu, termasuk pada masa wangsa Sailendra di Jawa, kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Dharmasraya sampai pada abad ke-14, dan terus berkembang pada masa Kesultanan Malaka[13][14][15] sebelum kerajaan ini ditaklukan oleh kekuatan tentara Portugis pada tahun 1511.
Masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-12, diserap baik-baik oleh masyarakat Melayu. Islamisasi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat jelata, namun telah menjadi corak pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Perak, Kesultanan Pahang, Kesultanan Brunei, dan Kesultanan Siak. Kedatangan kolonialis Eropa telah menyebabkan terdiasporanya orang-orang Melayu ke seluruh Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di perantauan, mereka banyak mengisi pos-pos kerajaan seperti menjadi syahbandar, ulama, dan hakim.
Dalam perkembangan selanjutnya, hampir seluruh Kepulauan Nusantara mendapatkan pengaruh langsung dari Suku Melayu. Bahasa Melayu yang telah berkembang dan dipakai oleh banyak masyarakat Nusantara, akhirnya dipilih menjadi bahasa nasional Indonesia, Malaysia, dan Brunei.

Etimologi

Ptolemy (90 - 168 M) dalam karyanya Geographia mencatat sebuah tanjung di Aurea Chersonesus (Semenanjung Melayu) yang bernama Maleu-kolon, yang diyakini berasal dari Bahasa Sanskerta, malayakolam atau malaikurram[16]. Berdasarkan G. E. Gerini, Maleu-Kolon saat ini merujuk pada Tanjung Kuantan atau Tanjung Penyabung di Semenanjung Malaysia.

Orang Gunung

Pada Bab 48 teks agama Hindu Vuya Purana yang berbahasa Sanskerta, kata Malayadvipa merujuk kepada sebuah provinsi di pulau yang kaya emas dan perak. Disana berdiri bukit yang disebut dengan Malaya yang artinya sebuah gunung besar (Mahamalaya). Meskipun begitu banyak sarjana Barat, antara lain Sir Roland Braddell menyamakan Malayadvipa dengan Sumatera [17]. Sedangkan para sarjana India percaya bahwa itu merujuk pada beberapa gunung di Semenanjung Malaysia [18][19][20][21][22].

Kerajaan Malayu

Dari catatan Yi Jing, seorang pendeta Budha dari Dinasti Tang, yang berkunjung ke Nusantara antara tahun 688 - 695, dia menyebutkan ada sebuah kerajaan yang dikenal dengan Mo-Lo-Yu (Melayu), yang berjarak 15 hari pelayaran dari Sriwijaya. Dari Ka-Cha (Kedah), jaraknyapun 15 hari pelayaran.[23] Berdasarkan catatan Yi Jing, kerajaan tersebut merupakan negara yang merdeka dan akhirnya ditaklukkan oleh Sriwijaya.
Berdasarkan Prasasti Padang Roco (1286) di Sumatera Barat, ditemukan kata-kata bhumi malayu dengan ibu kotanya di Dharmasraya. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malayu dan Sriwijaya yang telah ada di Sumatra sejak abad ke-7. Kemudian Adityawarman memindahkan ibu kota kerajaan ini ke wilayah pedalaman di Pagaruyung.
Petualang Venesia yang terkenal, Marco Polo dalam bukunya Travels of Marco Polo menyebutkan tentang Malauir yang berlokasi di bagian selatan Semenanjung Melayu. Kata "Melayu" dipopulerkan oleh Kesultanan Malaka yang digunakan untuk membenturkan kultur Malaka dengan kultur asing yakni Jawa dan Thai.[24] Dalam perjalanannya, Malaka tidak hanya tercatat sebagai pusat perdagangan yang dominan, namun juga sebagai pusat peradaban Melayu yang berpengaruh luas.[25]


#selamat membaca. mohon maaf jika ada yang salah :))

Jumat, 31 Januari 2014

Adat Istiadat Warga Indonesia

1. Suku Toraja
 Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
 Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja, artinya “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedangkan orang Luwu menyebutnya To Riajang, artinya orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga versi lain kata Toraya. To = Tau (orang), Raya = Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
 Di wilayah Tana Toraja juga digelar “Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’ollo”, arti harfiahnya, “Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).
 Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Sumber : Google.wikipedia@Toraja.com
 
Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di dalam Goa atau dinding gunung.
 Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling lambat September.
 Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane).
 Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut Simbuang Batu. Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil. Ukuran batu ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan” (kerbau yang dipotong sekurang- kurangnya 24 ekor).
 
 
 
2. Ngaben - pembakaran Jenasah di Bali
 
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh mereka yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu, khususnya di Bali. Di dalam “Panca Yadnya”, upacara ini termasuk dalam “Pitra Yadnya”, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur
  Makna upacara Ngaben pada intinya adalah, untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.
 Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya menghabiskan dana antara 15 juta sampai 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa, kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.
 Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat "Bade dan Lembu" yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warnawarni dan bahan lainnya. "Bade dan Lembu" ini adalah, tempat meletakkan mayat
 
Gambar 1.17. Lembu
 
Gambar 1.18. Bade
 
Kemudian "Bade" diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan "gamelan", dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Di depan "Bade" terdapat kain putih panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan, dan "Bade" akan diputar sebanyak 3 kali. Upacara Ngaben diawali dengan upacara-upacara dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian "Lembu" dibakar sampai menjadi abu yang kemudian dibuang ke laut atau sungai yang dianggap suci.
  3. Suku Dayak
Sejak abad ke 17, Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang bisa menindik diri hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar kuping daung daun telinga, menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga semakin cantik, dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat.
 
Kegiatan-kegiatan adat budaya ini selalu dikaitkan dengan kejadian penting dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Berbagai kegiatan adat budaya ini juga mengambil bentuk kegiatan-kegiatan seni yang berkaitan dengan proses inisiasi perorangan seperti kelahiran, perkawinan dan kematian ataupun acara-acara ritus serupa selalu ada unsur musik, tari, sastra, seni rupa. Kegiatan-kegiatan adat budaya ini disebut Pesta Budaya. Manifestasi dari aktivitas kehidupan budaya masyarakat merupakan miniatur yang mencerminkan kehidupan sosial yang luhur, gambaran wajah apresiasi keseniannya, gambaran identitas budaya setempat.
Kegiatan adat budaya ini dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan masih terus berlangsung sampai saat ini, sehingga seni menjadi perekam dan penyambung sejarah.
 Jadi, dapat disimpulkan yang disebut dengan kebudayaan adalah pikiran, karya, teknologi dan rangkaian tindakan suatu kelompok masyarakat.
 Istilah terkait adat istiadat : baju adat, pakaian adat, rumah, pakaian, adat jawa, rumah adat, rumah adat indonesia, pernikahan, adat batak, adat bali, adat istiadat, hukum adat, upacara adat, adat istiadat bali, adat istiadat daerah, adat istiadat jawa, adat istiadat melayu, adat istiadat sunda, adat melayu, adat sunda, contoh adat istiadat, pengertian adat, adat istiadat indonesia, kebudayaan, pengertian adat istiadat
 
#Selamat Membaca :))

Jumat, 24 Januari 2014

                                             Kehidupan Manusia Purba

A. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Pada  masa ini kehidupan manusia purba sangat bergantung kepada sumber daya alam. Mereka mengumpulkan umbi-umbian liar dan melakukan perburuan.
Hidupnya juga masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Awalnya mereka hidup sendiri-sendiri, namun untuk menghadapi keadaan alam yang berat dan makhluk buas, mereka telah menyadari pentingnya hidup berkelompok.
B. Masa Bercocok Tanam
Manusia purba telah bisa menyediakan makanannya sendiri dengan cara bercocok tanam dan beternak. Pada masa ini mereka sudah menetap.
Mereka membuat rumah dari kayu dan tinggal di suatu daerah sambil menunggu waktu panen. Ketika tanah yang dijadikan lahan untuk bercocok tanam sudah tidak subur, baru mereka akan berpindah tempat.
Pada zaman ini, manusia diperkirakan telah mengenal pakaian yang terbuat dari kulit binatang atau kulit kayu.
C. Masa Mengenal Kepercayaan
Pada masa ini manusia purba mulai menyadari adanya kekuatan yang melebihi dirinya, sehingga mereka melakukan upacara-upacara.
Selain itu, dibuat bangunan-bangunan yang sangat besar untuk digunakan dalam upacara tersebut. Upacara tersebut antara lain upacara pemujaan, upacara ritual dan upacara persembahan. 
D. Masa Perundagian
Awalnya alat-alat yang mereka gunakan untuk bertahan hidup hanya batu runcing, kapak, tulang dan kayu. Nah, pada masa ini manusia mulai membuat barang-barang yang berasal dari logam.
Mereka membuat barang-barang logam ini dengan cara mencetaknya. Oh iya, bahkan sudah ada sistem pertukaran untuk mendapatkan logam.
Seperti itulah kehidupan manusia purba. Jauh berbeda dengan kehidupan kita saat ini. Bener enggak? Adakah yang mau merasakan kehidupan zaman purba? (Kidnesia/Berbagaisumber

Rabu, 22 Januari 2014

Kehidupan Alam Semesta

                                     Bagaimana Alam Semesta dan Kehidupan Bermula?
”Sains akan pincang tanpa agama, dan agama akan buta tanpa sains.”—Albert Einstein.
MASA kita ini adalah masa terjadinya banyak sekali hal menakjubkan yang tidak pernah ada sebelumnya. Berbagai penemuan baru dari luar angkasa memaksa para astronom untuk merevisi pandangan mereka tentang asal mula alam semesta kita. Banyak orang terpesona oleh ketertiban alam semesta dan mengajukan berbagai pertanyaan klasik yang terkait dengan keberadaan kita: Bagaimana alam semesta dan kehidupan bermula dan mengapa?
Bahkan, kalau kita melihat ke arah lain—ke dalam diri kita—pemetaan kode genetis manusia yang dilakukan baru-baru ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana beragam bentuk kehidupan tercipta? Dan siapa, jika ada, yang menciptakannya? Kerumitan yang luar biasa dari cetak biru genetis kita menggerakkan seorang presiden Amerika untuk berkata bahwa ”kita sedang belajar bahasa yang Allah gunakan untuk menciptakan kehidupan”. Salah seorang ilmuwan kepala yang terlibat dalam penguraian kode genetis tersebut dengan rendah hati menyatakan, ”Kita baru melihat sekilas buku panduan kita sendiri, yang sebelumnya hanya diketahui oleh Allah.” Namun, pertanyaannya tetap belum terjawab—bagaimana dan mengapa?
                                                                              ”Dua Jendela”
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa semua mekanisme alam semesta ini dapat dijelaskan oleh analisis rasional, sehingga tidak perlu ada hikmat ilahi. Namun, banyak orang, termasuk para ilmuwan, tidak puas dengan pandangan ini. Mereka berupaya memahami realitas dengan melihat keduanya, sains maupun agama. Mereka merasa bahwa sains dapat menjelaskan caranya kita dan kosmos di sekitar kita tercipta, sementara agama dapat menjelaskan alasannya kita tercipta.
Tentang pendekatan dua arah ini, fisikawan Freeman Dyson menjelaskan, ”Sains dan agama adalah dua jendela yang melaluinya orang-orang berupaya memahami alam semesta yang luas di luar.”
”Sains berurusan dengan apa yang dapat diukur, agama berurusan dengan apa yang tidak dapat diukur,” kata penulis William Rees-Mogg. Ia mengatakan, ”Sains tidak dapat membuktikan atau menyangkal keberadaan Allah, sebagaimana hal itu juga tidak dapat membuktikan benar-tidaknya gagasan moral atau estetika tertentu. Tidak ada alasan ilmiah mengapa kita harus mengasihi sesama atau merespek nyawa manusia . . . Berpendapat bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah merupakan kesalahan terbesar, yang akan menghapuskan semua yang kita hargai dalam kehidupan, bukan hanya Allah atau kecerdasan manusia, tetapi juga cinta, puisi, dan musik.”
 

Kehidupan Alam Semesta Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template and web hosting